Analisis Pola Kepemimpinan dan Struktur dalam Kepanitiaan Mahasiswa

Posted by Luthfi Hutomi on Senin, November 07, 2011 4 comments

Saya ingin menganalisis pola kepemimpinan dan struktur yang ada dalam umumnya kepanitiaan mahasiswa berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya selama ini. Analisis dan rekomendasi berikut bukanlah upaya sok tau atau memberikan solusi tunggal, namun lebih merupakan refleksi aktivitas yang saya lakukan selama ini. Sebelum saya menyudahi kiprah kepanitiaan teknis mahasiswa yang sudah lebih kurang 2 tahun saya tekuni.



Pertama saya ingin kita menyamakan perspektif bahwa yang akan saya pakai dalam keseluruhan analisis berikut adalah teori struktural fungsional. Teori ini melihat bahwa kepanitiaan merupakan struktur yang memiliki elemen-elemen yang saling berhubungan dan mempunyai fungsi tertentu. Jika terjadi malfungsi di salah satu elemen, maka secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada sistem secara keseluruhan.

Culture of Poverty di Pandangan Oscar Lewis

Posted by Luthfi Hutomi on Senin, Oktober 24, 2011 0 comments

Dalam buku Kemiskinan di Perkotaan suntingan Dr. Parsudi Suparlan, chapter pertama membahas tentang kebudayaan kemiskinan. Oscar Lewis adalah orang yang tulisannya disimpan di awal pembahasan. Lewis menjelaskan bahwa kemiskinan yang ia pahami adalah suatu sub-kebudayaan yang diwarisi dari generasi ke generasi. Ia membawakan pandangan lain bahwa kemiskinan bukan hanya masalah kelumpuhan ekonomi, disorganisasi atau kelangkaan sumber daya. Kemiskinan dalam beberapa hal bersifat positif karena memberikan jalan keluar bagi kaum miskin untuk mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya.
Culture of poverty, lanjutnya, mewujud dalam masyarakat yang memiliki kondisi seperti:
  • Sistem ekonomi uang, buruh upahan dan sistem produksi untuk keuntungan
  • Tingkat pengangguran dan setengah pengangguran tinggi
  • Upah buruh rendah
  • Tak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisasi sosial, ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah
  • Sistem keluarga bilateral lebih menonjol
  • Kuatnya seperangkat nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal dan sikap hemat, serta ada anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidaksanggupan pribadi/memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya.

Lumpenproletariat: Seri Kajian Ringkas Manifesto Komunis

Posted by Luthfi Hutomi on 0 comments

Denger kata komunis apa yang terpikir di kepala Sobat? Serem? Ngeri? Bengis? Pada kenyataannya begitulah mereka. Namun, bagaimana mungkin paham ini begitu menyebar luas di dunia bahkan sempat menjadi primadona? Coba lihat di zaman kegemilangan Mao Zedong, bukankah rakyat begitu mengelu-elukannya? Lihatlah Uni Soviet, bukankah dulu ia adalah negara terkuat saingan Amerika Kapitalis? Bahkan ada seorang pujangga besar mengatakan bahwa jika ada seorang pemuda tidak terpukau dengan Marxisme (Komunisme), maka dia adalah orang yang bebal otaknya. 


Karya Marx, sang pendiri Komunisme, yang amat menggegerkan dunia bukanlah The Capital yang berjilid-jilid itu. Tapi sebuah “kitab” kecil yang jadi dasar perjuangan kaum proletar: Manifesto Komunis. Kali ini, kita akan mulai dari sisi yang berbeda dari fokus pembahasan Marx: Lumpenproletariat. Golongan yang disisihkan dan declassed yang tidak Marx hiraukan dalam sebagian besar tulisannya. 

Employee Assistance Program

Posted by Luthfi Hutomi on Sabtu, Oktober 15, 2011 0 comments

Perkembangannya
Employee Assistance Program (EAP) atau program pendampingan karyawan pertama kali diterapkan di Amerika dan dilakukan oleh manager, supervisor, HRD ataupun outside profesional. Program ini berubah dan berkembang dari OAP (occupational alcoholism program), program yang menangani banyaknya masalah alkohol di kalangan pekerja. Awalnya program EAP memang ditujukan hanya klien yang mempunyai masalah kronis dengan drinking problem (biasanya mereka menolak kalau mereka bermasalah) sehingga memperlihatkan kinerjanya menurun.
Kemudian (tahun 1970), yang menjadi klien dari EAP adalah mereka yang mempunyai masalah dengan emosi. Seperti juga klien yang mempunyai masalah dengan alkohol, klien yang tadinya tidak di rawat, selalu diikuti dengan rawat jalan yang intensif.

Perspektif Institusional (Sari Buku Social Development karya James Midgley)

Posted by Luthfi Hutomi on 0 comments

Inti dari perspektif institusional adalah mengharmonisasikan beragam institusi sosial termasuk pasar, komunitas dan negara untuk peningkatan kesejahteraan manusia. Dalam perspektif ini, pemerintah harus memainkan peranan aktif untuk mengharmonisasikan strategi yang berbeda dan mengelola usaha pembangunan sosial. Dengan begitu, perspektif institusional dicirikan sebagai aktivitas administratif yang mengelola pluralisme.
Karakteristik perspektif institusional, yakni pemerintah memainkan peran aktif, membutuhkan pembentukan organisasi formal yang bertanggung jawab terhadap pembangunan sosial dan mengharmoniskan implementasi berbagai pendekatan strategi yang berbeda, mempromosikan pluralisme dan mengakomodasi beragam keyakinan yang ada.
Akar dari perspektif ini timbul di zaman renaissans manakala Sir Thomas More dan Desiderius Erasmus pertama kali memohonkan adanya toleransi beragama. Kemudian timbulnya ideologi kapitalisme dan sosialisme menginspirasi suatu perspektif untuk berdiri di antara keduanya. Munculah perpektif institusional yang memiliki kerangka berpikir plural. Istilah institusionalisme sendiri dipopulerkan oleh