Menghargai Ilmu Pengetahuan dan Kritisisme

Ilmu, Pengetahuan, dan Ilmu Pengetahuan
Menurut Soedojo (2004), ilmu adalah susunan sistematik berdasarkan kaidah normatif tertentu terhadap keterampilan, pengertian, pemahaman atau pengetahuan . Sedangkan secara bahasa, ilmu (science) berasal dari kata scientia atau scire yang berarti mempelajari, mengetahui (segenap pengetahuan yang sistematik/wissenschaft).

Ilmu terbagi menjadi dua: ilmu pengetahuan dan ilmu nonpengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah ilmu yang diperoleh dan dikembangkan dengan mengolah atau memikirkan realita yang berasal dari luar diri manusia secara ilmiah dengan menerapkan metode ilmiah. Sedangkan ilmu nonpengetahuan adalah ilmu yang diperoleh dan dikembangkan secara sistematik terhadap kemampuan diri manusia/ide dalam pikiran secara deduktif dan analitik. Contohnya bela diri, kebatinan, dan sebagainya.

Pengetahuan sendiri merupakan realita dari luar diri yang lalu dimengerti, dipahami dan diyakini kebenarannya. Pengetahuan membagi diri menjadi pengetahuan ilmiah dan pengetahuan nonilmiah. Pengetahuan nonilmiah dapat kita golongkan menjadi intuisi dan metafisika yang kebenarannya diragukan, dan wahyu Ilahi yang kebenarannya mutlak.

Ilmu pengetahuan (ilmiah) terbagi dalam dua lingkup besar, yakni ilmu alam dan ilmu sosial. Keduanya terbagi lagi menjadi ilmu murni dan ilmu terapan. Sementara dalam kerangka realitas, ilmu pengetahuan digambarkan di atas piramida berikut.

Dalam mystical explanations, hipotesis yang diajukan tidak bisa diuji kesahannya. Dalam scientific problems, hipotesis yang diajukan sudah diuji tapi belum dibuktikan kesahannya. Sedangkan dalam scientific knowledge, hipotesis yang diajukan sudah diuji dan terbukti sah. Mystical explanations seperti takhayul dan khurafat jelas harus kita jauhi karena tidak rasional dan di luar nalar. Sedangkan untuk scientific problems, kita bisa membuktikan kebenarannya dengan melakukan penelitian. Misalnya, untuk membuktikan seorang berkelamin ganda itu pria atau wanita bisa dilakukan penelitian untuk menentukan kelaminnya sehingga ia bisa membuang kelamin sisa yang tidak sesuai kelamin aslinya. Maka dari itulah, bobot penelitian ilmiah sangat tinggi dibandingkan metode ilmiah lainnya. Dengan adanya penelitian, kita akan semakin meluaskan puncak piramida ilmu pengetahuan di atas (scientific knowledge).

Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Tidak jelas siapa yang memulai sejarah ilmu pengetahuan. Ada yang mengatakan semua bermula dari Yunani mulai dari Thales dan Anaximendes. Namun, peradaban Yunani kuno saat itu masih tercampur dengan mitos-mitos mengenai dewa dan sesembahan. Ada yang mengira perkembangan ilmu pengetahuan mulai dan mencapai puncak di Timur, terutama Timur Tengah, dengan pembangunan berbagai perpustakaan dan gerakan penerjemahan buku-buku klasik serta munculnya intelektual ternama seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, dan sebagainya. Ada yang menganggap peradaban ilmu pengetahuan dimulai dari agama, seperti Islam, Kristen, dan Yahudi.

Yang jelas, faktanya ilmu pengetahuan telah berkembang dan sampai kepada kita sekarang dengan beragam bentuk dan kontradiksi. Ilmu-ilmu murni seperti kimia, fisika, psikologi, sosiologi semakin menurunkan beragam ilmu terapan. Begitu pula ilmu terapan tersebut, semakin banyak memunculkan tantangan-tantangan yang mengharuskan ilmu murni harus meluaskan bidang kajiannya. Semua itu memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dunia.

Melirik perkembangan ilmu sosial, ternyata tidak sebergengsi ilmu alam. Dalam tulisan berjudul “Impotensi Kronis Ilmu Sosial di Indonesia”, Hokky Situngkir, Peneliti di Bandung Fe Institute, membawakan perspektif yang menarik untuk dikutip secara panjang:

“Ini semua terjadi karena ilmu sosial adalah ilmu yang telanjur dianggap mudah oleh anak-anak bangsa. Ilmu sosial dianggap sebagai ilmu hafalan dan cenderung retoris bahkan tidak terlalu membutuhkan kemampuan analitik. Ilmu pengetahuan alam yang cenderung lebih matematis jauh lebih dianggap bergengsi. Akhirnya lahirlah “sarjana” hukum, “ahli” antropolog, “ahli” ekonomi, “ahli” sosiologi, “ahli” sejarah kebanyakan yang mengandalkan adu mulut. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa mereka yang berada di area ilmu pengetahuan alam dan teknologi – dengan anggapan akan kemudahan ilmu sosial – dengan sekenanya memberi berbagai komentar akan apa yang seharusnya menjadi area bermain ilmuwan sosial - tanpa memiliki pengetahuan bahkan rujukan pustaka yang cukup.”

“Benarkah ilmu sosial lebih mudah daripada ilmu alam? Di mata awam, ilmu alam sarat dengan rumus-rumus matematika yang cenderung sulit untuk dipahami. Sementara formulasi matematika, di kalangan ilmuwan sosial seringkali dianggap sarat reduksionisme, kuantifikasi yang naif, karena menganggap bahwa terlalu banyak hal di bidang sosial yang tak mungkin diukur dan didekati secara kuantitatif. Akibatnya adalah timbulnya polaritas yang bukan lagi antara ilmu sosial dan ilmu alam, namun lebih dangkal lagi yakni antara ilmu kualitatif da n ilmu kuantitatif. Dengan sekenanya timbul pelabelan bahwa ilmu alam itu kuantitatif sementara ilmu sosial kualitatif. Pelabelan inilah yang merusak tatanan ilmu sosial, karena perdebatan ilmu bukan lagi akan obyek yang akan didekati, namun lebih kepada metodologi apa yang digunakan untuk mendekati obyek permasalahan. Apa yang seharusnya dapat didekati secara kuantitatif atau ditarik ke dalam struktur aljabar yang ketat ditinggalkan, sehingga berakibat tumpulnya analisis yang dihasilkan.”

“Yang diukur dan dianalisis dari sebuah fenomena alam adalah faktor-faktor yang cenderung tetap dengan universalitas yang dapat dilokalisasi dengan mudah, sehingga analisis ilmu alam di Eropah akan bisa diterapkan dengan mudah di Indonesia, dengan memperhatikan variabel-variabel lokal yang mudah dideteksi, seperti percepatan gravitasi, kelembaban udara, dan seterusnya. Berlawan an dengan hal itu, ilmu sosial berhadapan dengan manusia sebagai penentu utama variabel tersebut. Sudah sangat terbukti bahwa analisis sosiologis atau ekonomi yang berkembang di negara maju belum tentu efektif di Indonesia. Ada similaritas di dalam berbagai fenomena sosial di seluruh dunia, namun tidak sama. Contohnya, krisis di Eropa memiliki similaritas dengan di Indonesia, namun tentunya tidak sama oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan kultur dan ideologi yang berkembang. Meminjam istilah yang kerap digunakan dalam ilmu alam, terlalu banyak noise atau pengganggu (disturbance) dalam berbagai fenomena sosial. Artinya pendekatan analitis dalam ilmu sosial harus benar-benar kuat di mana asumsi-asumsi yang lahir dan menjadi aksiomanya harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Metode pemodelan permasalahan sosial tidak boleh dibuat sekenanya karena berbeda dengan ilmu alam, ilmu sosial tidak memiliki laboratorium untuk mencobanya secara trial and error. Laboratorium sosial adalah masyarakat itu sendiri, artinya pemodelan fenomena sosial harus dibuat berbasis simulasi dengan rule-rule yang bisa dipertanggungjawabkan dengan baik. Setelah lolos dengan analisis dan ujian simulatif yang ketat, baru bisa diterapkan di dalam realitas masyarakat.”

Sejarah Ilmu Kesejahteraan Sosial
Salah satu cabang ilmu sosial terapan adalah Ilmu Kesejahteraan Sosial. Dalam Adi (2005) dikatakan bahwa awalnya usaha-usaha kesejahteraan sosial dilakukan oleh kelompok keagamaan yang sifatnya sukarela (charity). Cikal bakal intervensi negara untuk menyejahterakan masyarakatnya mulai dari Undang-undang Kemiskinan yang dikeluarkan oleh Ratu Elizabeth (Elizabethan Poor Law).

Usaha kesejahteraan sosial yang berawal dari cita humanitarianisme kemudian berkembang lebih terarah dan terorganisir. Gaya para relawan yang filantropis kian hari membuat mereka kian merasa perlu menciptakan organisasi para relawan. Tahun 1869 muncul organisasi relawan bernama COS (Charity Organization Society) di London, Inggris. Organisasi relawan tersebut dikembangkan untuk menggalang dan mengkoordinasikan bantuan dana dan material dari berbagai gereja serta kurang lebih 100 lembaga amal. Perkembangan organisasi relawan di Inggris berpengaruh pula terhadap perkembangan organisasi relawan di Amerika yang kemudian berdiri di Buffalo, New York. Dalam jangka waktu 10 tahun kemudian, terbentuk 25 organisasi sosial di Amerika Serikat.

Hal ini membuat seorang praktisi pekerjaan sosial, Mary Richmond, menggagas Sekolah Pelatihan Filantropi Terapan. Sekolah inilah yang jadi awal kelas pekerjaan sosial di New York pada tahun 1898. Perluasan pokok bahasan dalam sejarah perkembangan bidang pekerjaan sosial telah memunculkan suatu kajian kesejahteraan sosial yang lebih luas. Munculnya kajian kesejahteraan sosial ini kemudian mendorong terbentuknya disiplin baru bernama ilmu kesejahteraan sosial.

Intelektual Pengembang Ilmu: Mahasiswa?
Ilmu, telah menjadi perbincangan dari waktu ke waktu, bahkan ilmu telah menjadi simbol kemajuan dan kejayaan suatu bangsa. Hampir tak ada suatu bangsa dinilai maju kecuali di sana ada ketinggian ilmu. Seorang tokoh besar Islam, Imam Ahmad saja menyatakan, “Manusia sangat membutuhkan ilmu dari sekedar menyantap makanan dan minuman; karena makanan dan minuman dibutuhkan oleh manusia sekali atau dua kali dalam sehari.” Begitu tingginya kedudukan ilmu ini sampai ada yang menganggap bahwa ilmu hanya dimiliki oleh beberapa golongan saja, beberapa elit saja. Dennis O’Keeffe menyebutkan dalam Education and Modernity: 2nd IEA Discussion Paper bahwa salah satu karakteristik prinsip dari modernitas adalah adanya minoritas besar populasi dengan perkembangan intelektual yang tinggi. Elit brilian itulah yang akan menggerakkan ekonomi, ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, hukum dan sistem kesehatan.

Reduksi ilmu pengetahuan kepada beberapa orang yang disebut intelektual atau cendekiawan saja, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kebesaran ilmu pengetahuan. Justru ini merupakan doktrin menjijikkan yang harus dihilangkan. Meskipun realitanya masih kita lihat masih sedikit orang yang belajar dan lulus dari perguruan tinggi, yang notabene di Indonesia masih dianggap tempat belajar “maha-siswa”.

Namun, jumlah yang sedikit ini tidak sesuai harapan banyak orang. Mahasiswa lebih dikenal bukan karena pekerjaan intelektualnya, tapi karena demonstrasi, merusak fasilitas umum, tawuran, dan lain-lain. Walaupun kita tahu sendiri, newsmaker lebih menyukai berita buruk daripada mengumumkan prestasi mahasiswa di olimpiade internasional. Tapi benarkah itu hanya akal-akalan pembuat berita saja? Ataukah itu memang realitanya?

“Generasi yang bersifat pembaharu tentu memiliki sifat mandiri, enggan meniru, dan memiliki optimisme tinggi dalam menggunakan ilmu yang dimilikinya untuk dapat diterapkan. Sifat generasi pembaharu inilah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia untuk dapat membebaskan permasalahan yang selama ini terjadi.” (Jodi Afila Ryandra, Kriminologi 2009, dalam Buletin Keilmuan BEM FISIP UI 2011)

Impian kawan kita di atas adalah melihat generasi pembaharu muncul di masyarakat dengan bekal ilmu yang telah ia bawa. Dalam konteks ini, dia berharap kepada mahasiswa. Tapi coba perhatikan mahasiswa saat ini, di kampus kita saja. Apakah yang diajarkan selama ini di bangku kuliah telah kita cerap dengan baik sehingga bisa kita amalkan dalam keseharian? Bergunakah ilmu dan wawasan yang kita miliki selama bertahun-tahun kuliah dalam masyarakat? Apakah kita hanya mampu berteori tapi tak berdaya untuk beraksi? Apakah kita cukup kritis menanggapi ilmu pengetahuan yang coba diajarkan dosen kepada kita? Ataukah kita menerimanya sebagai hal yang memang harus diterima kebenarannya layaknya kitab suci? Tidakkah kita berusaha menggali lebih dalam berbagai topik yang dibicarakan selama di kampus ini? Ataukah kita hanya bangga akan almamater kita dengan melupakan tanggung jawab kita terhadap ilmu pengetahuan?

Senjakala Kritisisme
Irmayanti Meliono menyebutkan dalam bukunya Filsafat Ilmu Pengetahuan: Refleksi Kritis terhadap Realitas dan Objektivitas Ilmu Pengetahuan, bahwa berpikir kritis selalu berkaitan dengan olah kegiatan akal budi manusia. Melalui akal budinya, seseorang dilatih untuk mengingat dan memikirkan tentang sesuatu. Kegiatan berpikir manusia tidak pernah berhenti. Proses yang terus-menerus ini menyebabkan manusia makin cermat dan teliti dalam pencarian pengetahuan. Itulah yang dinamakan kritis. Kritis adalah upaya mencari dan menggali pengetahuan secara mendalam.

Dari Karl R. Popper, melalui Logic of Scientific Discovery (1968), Conjenctures and Refutations (2002), The Open Society and Its Enemies (I&II, 1968) atau Popper Selections (1985) kita belajar, melalui kritik paling tajamlah ilmu pengetahuan berkembang. Kritisisme dengan error-elimination bakal mampu membongkar kesalahan dari teori sebelumnya dan melapangkan jalan pada kemajuan.

Namun kelesuan kritisisme tampak menjalar kini. Jarang kita dengar sayup-sayup diskusi mahasiswa pra-revolusi ’66 atau ’74, bahkan kritik “manis” sembunyi-sembunyi gaya pra-reformasi ‘98. Bukan kita ingin masuk ke dalam romantisme masa lalu. Patut kita tanyakan juga, apakah taring mahasiswa sebagai akademisi pun telah tumpul? Sehingga minatnya untuk berdebat di kelas atau sekedar mengacungkan tangan menurun. Semoga kita tidak terjangkit apa yang dikatakan Muhammad Umar Syadat Hasibuan sebagai frustasi intelektual dimana itu bisa dengan mudah mendorong seseorang pada dua ekstrim negatif: apatisme dan oportunisme.

Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas (2000) mengutip Fransisco Weffers menyebutkan, “Bangkitnya kesadaran kritis membuka jalan ke arah pengungkapan ketidakpuasan sosial secara tepat karena ketidakpuasan itulah unsur-unsur yang nyata dari sebuah situasi yang menindas.” Seorang akademisi harusnya lebih tidak puas jika ia menghadapi suatu situasi dimana ilmu pengetahuan yang ia dapat kurang memuaskan, tidak aplikatif, atau bahkan ingin membenarkan dirinya sendiri. Kecenderungan lemahnya kritisisme seseorang ada banyak. Bisa karena dia memang tidak mengerti terhadap situasinya. Bisa karena ia mengerti namun menganggap hal itu sebagai angin lalu yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Bisa jadi, dan ini yang paling parah, karena ia menganggap ilmu pengetahuan yang ia dapatkan kini adalah sesuatu yang sudah benar dan harus diterima. Layaknya dogma, ini sangat berbahaya. Karena sifat ini justru mematikan kritisisme seseorang, pun dengan kreativitasnya.

Menghargai Ilmu Pengetahuan dan Kritisisme
Guru kita hanya menyampaikan ilmu, kitalah yang berkewajiban menggalinya. Kita berhak untuk memilih mana yang berguna untuk kita dan mana yang bisa kita terapkan. Perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa menunjukkan bahwa bangsa yang beradab karena ilmu pengetahuannya. Namun, seringkali ilmu pengetahuan disalahgunakan sebagai alat indoktrinasi. Hal itu, secara sadar maupun tidak, terjadi karena kapasitas kritis dalam alam jiwa seseorang menurun sampai tahap yang benar-benar ‘kritis’.

Tak perlu menunggu waktu lama untuk menjadi kritis. Tak perlu menunggu teguran untuk menghargai ilmu. Tulisan ini tidak mengajak pembaca untuk manut kepada gurunya. Itu urusan etika masing-masing, dan biarlah masing-masing individu yang menilainya. Tapi gaulilah ilmu pengetahuan dengan semestinya, dengan cara kita. Lalu kembangkan kritisisme kita akan segala hal, terutama akan ilmu pengetahuan. Seorang mahasiswa adalah intelektual yang nyata, bukan seorang perenung dalam alam jiwanya tapi lebih dari itu: berbuat untuk sekitarnya. Seorang mahasiswa bukanlah elit yang jauh dari realita dan terperosok dalam idealita, tapi ia mampu mengatasi semua itu dengan bijak. Seorang mahasiswa adalah akademisi yang kritis menanggapi apapun yang berusaha masuk ke dalam otaknya dan mempengaruhinya. Fadjroel Rachman mengatakan, “Tanpa kritisisme tidak akan tumbuh demokrasi dan ilmu pengetahuan. Tanpa kritisisme tidak ada jalan untuk menjadi manusia dan mengembangkan kemanusiaan kita.”

Kita bukan lagi manusia yang berpikir segalanya hitam dan putih. Kita harus memverifikasi segala apapun yang mengklaim dirinya sebagai sesuatu yang benar, sambil berusaha memfalsifikasinya. Kita bukan penganut dogmatis dan fatalis, yang menyerahkan diri kita kepada keadaan. Soe Hok Gie menegaskan, “Saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tak boleh menginkari ujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan wujud tadi. Karena itu saya akan berani untuk berterus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur terhadap diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia dan bukan alat siapapun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk instruksi dari siapapun juga, tetapi harus dihayati secara kreatif. A man is as he thinks.”

Saatnya kita warnai lagi hari pendidikan nasional kita dengan menghargai ilmu pengetahuan dan menyuburkan sikap kritis. Akhirnya saya tutup tulisan ini dengan keutamaan ilmu menurut sastrawan Timur Tengah, A’idh Al-Qarni: “Nama baik karena ilmu akan abadi, manfaatnya kekal, buah dan ganjarannya berkelanjutan, keagungannya sangat megah, dan ajarannya sangat luhur. Orang yang mengetahui nilai ilmu akan rela tidak tidur di malam hari untuk mengejarnya dan menanggung dahaga di siang hari demi mendapatkannya. Ia akan terus membaca, menghafal, bertanya, mengingat-ingat, mengkaji, berdiskusi, mengulang-ulang, menulis, rajin mengumpulkan faedah-faedahnya, giat menghimpun keunikan-keunikannya, bersungguh-sungguh memperluas dan memperdalam pengetahuannya dan mendidik akalnya dengan pelbagai bidang hikmah. Dia tidak mengeluh, meskipun harus menahan lapar dan lelah karena dia berada di posisi yang lebih tinggi dari lapis-lapis langit, posisi yang lebih mulia dari bintang-bintang.”


Referensi:
Soe Hok-gie...Sekali Lagi Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, edt. Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan R. (2009). Jakarta: KPG.
Adi, I. R. (2005). Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial (Pengantar pada Pengertian dan Beberapa Pokok Bahasan). Jakarta: FISIP UI Press.
Al-Qarni, A. A. (2005). Silakan Terpesona. Jakarta: Sahara Publishers.
Soedojo, Peter, Dr. B.Sc. (2004). Pengantar Sejarah dan Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam. Yogyakarta: Gama University Press.
Hasibuan, M. U. (2008). Revolusi Politik Kaum Muda. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Meliono, I. (2009). Filsafat Ilmu Pengetahuan: Refleksi Kritis terhadap Realitas dan Objektivitas Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Yayasan Kota Kita.
Rachman, M. F. (2007). Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat. Depok: Penerbit Koekoesan.
Surajiyo, Drs. (2008). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.

Kesalahan Seorang Imam

Besar kecilnya kesalahan seorang imam shalat pasti akan berpengaruh terhadap shalat makmumnya.

Inilah yang saya simpulkan dari beberapa kesalahan imam shalat berjamaah yang saya ikuti, mulai dari lupa raka'at, salah baca surat, dan berbagai perkara lainnya. Yang paling sering terjadi dan mengganggu bagi saya adalah saat imam salah membaca atau lupa dalam membaca surat setelah Al-Fatihah. Hal ini terjadi pada saat solat jahriyah (subuh, maghrib dan isya). Memang dalam hal ini, Rasulullah saw telah mengatakan bahwa kesalahan imam tidak akan ditanggung oleh makmumnya. Artinya kesalahan imam adalah kesalahannya sendiri dan pahala makmum tidak akan dikurangi sedikitpun. Untuk itu, saya lebih suka mengatakan kalau kesalahan imam dalam shalat akan mempengaruhi efektivitas pelaksanaan sholat makmumnya. Kita akan sangkut pautkan ini dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Jika imam salah baca surat, pasti orang yang mendengarnya merasa terganggu. Ada yang berkata dalam dirinya,

Analisis Lingkungan Organisasi Pada Lembaga Bimbingan Belajar Primagama Merdeka, Bogor


BAB    I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Permasalahan
Pendidikan merupakan modal dasar manusia yang sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Kemajuan pendidikan Indonesia tidak bisa dipisahkan dari berbagai lembaga pendidikan di dalamnya, mulai dari sekolah formal, informal, dan terutama bimbingan belajar. Kehadiran bimbingan belajar turut membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih baik. Meskipun tidak bisa kita klaim semua lembaga bimbingan belajar di Indonesia berkualitas.
Namun, kehadiran lembaga bimbingan belajar tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya. Banyak lembaga bimbingan belajar yang gulung tikar karena tidak mampu menghadapi perubahan di lingkungannya. Sebenarnya tidak hanya itu. Mereka yang bankrut juga bisa jadi kurang memahami posisi lingkungan dimana mereka terlibat di dalamnya serta implikasinya. Begitu pun kurangnya pemahaman mengenai karakteristik lingkungan membuat organisasi tidak mampu merespons pengaruh lingkungan dengan baik. Terjadi proses mempengaruhi yang tidak seimbang—organisasi begitu terpengaruh dengan lingkungan sehingga tidak bisa mempengaruhi lingkungan, bertahan menghadapi perubahan dan bertransformasi lebih baik.
Primagama adalah salah satu lembaga bimbingan belajar yang mengalami tantangan di atas. Dia harus tetap bertahan dan berkembang jika tidak ingin diungguli pesaing. Tanpa melupakan hakikatnya sebagai organisasi pelayanan kemanusiaan, Primagama harus tetap berorientasi pada pemenuhan kebutuhan manusia sesuai tujuan yang telah disepakati di awal. Tentu lingkungan sangat berpengaruh. Tetapi, Primagama seakan menguatkan eksistensinya dan berdamai dengan lingkungan sehingga telah lebih dari 30 tahun telah berkiprah di dunia pendidikan Indonesia.

UU Nomor 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial disahkan di Jakarta pada tanggal 16 Januari 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Undang-undang ini adalah pengganti Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Dasar dari UU ini adalah Pancasila, UUD Pasal 18A, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 23 ayat (1), Pasal 27 ayat  (2),  Pasal  28C  ayat  (1), Pasal  28H  ayat  (1),  ayat  (2), dan ayat (3), dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Disebutkan dalam penjelasan umum undang-undang ini: Materi pokok yang diatur  dalam  Undang-Undang  ini,  antara  lain,  pemenuhan  hak  atas kebutuhan  dasar,  penyelenggaraan  kesejahteraan  sosial  secara komprehensif dan profesional, serta perlindungan masyarakat. 

Pada Bab I membahas Ketentuan Umum yang membicarakan mengenai pengertian kesejahteraan sosial, pelaku dan penyelenggaraannya, tenaganya, lembaganya, pekerja sosial profesional, relawan sosial, rehabilitasi, perlindungan, pemberdayaan, dan jaminan sosial, serta disebutkan juga mengenai pengertian warga negara, pemerintah pusat, daerah dan menteri yang sering dipakai dalam redaksi undang-undang ini.

UU Nomor 13/2011 tentang Penanganan Fakir Miskin

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2011 tentang Kesejahteraan Sosial disahkan di Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dasar dari UU ini adalah Pasal 20, Pasal 21, Pasal 27 ayat (2), Pasal  28H  ayat  (1),  dan ayat  (2), Pasal 33 ayat (3) dan ayat (4), dan Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta UU Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. Disebutkan dalam penjelasan umum undang-undang ini: Materi pokok yang diatur dalam  Undang-Undang ini, antara lain Hak dan Tanggung Jawab, Penanganan Fakir  Miskin, Tugas dan Wewenang, Sumber Daya, Koordinasi dan Pengawasan, Peran Serta Masyarakat, dan Ketentuan  Pidana. Undang-Undang  ini diharapkan dapat  memberikan  keadilan  sosial  bagi  warga  negara  untuk  dapat hidup secara layak dan bermartabat. 

Bab I membahas Ketentuan Umum yang membicarakan mengenai pengertian fakir miskin, penanganan fakir miskin, kebutuhan dasar, serta disebutkan juga mengenai pengertian pemerintah pusat, daerah dan menteri yang sering dipakai dalam redaksi undang-undang ini.