Kajian Komparatif Teori Pembangunan: Teori Modernisasi dan Dependensi

Sebenarnya paper ini judul aslinya Kajian Komparatif Tiga Teori Pembangunan: Modernisasi, Dependensi dan Sistem Dunia. Tapi karena sambungan yang sistem dunia-nya ada di temen, jadi saya posting aja ya yang ada. Semoga bermanfaat.

Pembangunan meniscayakan transformasi struktural dalam segala aspek kehidupan, baik perubahan kultural, politik, sosial, ekonomi, maupun yang lainnya. Teori-teori yang dibangun terkait dengan pembangunan sangat terkait erat dengan strategi pembangunan. Teori pembangunan memuat berbagai pendekatan ilmu sosial yang berusahan menangani masalah keterbelakangan dan mengalami perubahan besar dalam proses tersebut. Teori-teori yang dirumuskan para pakar hingga saat ini jumlahnya banyak sekali. Namun, bila kita bicara teori pembangunan ada 3 teori besar yang sering dibahas, yaitu teori modernisasi, dependensi dan sistem dunia.


1.      Teori Modernisasi
Teori modernisasi lahir sebagai tanggapan ilmuwan sosial Barat terhadap apa yang terjadi di Dunia Ketiga setelah Perang Dunia II. Teori ini muncul sebagai upaya Amerika untuk memenangkan perang ideologi melawan sosialisme yang pada waktu itu sedang populer. Bersamaan dengan itu, lahirnya negara-negara merdeka baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin bekas jajahan Eropa melatarbelakangi perkembangan teori ini. Negara adidaya melihat hal ini sebagai peluang untuk membantu Negara Dunia Ketiga sebagai upaya stabilitas ekonomi dan politik. Pengaruh ideologi developmentalis yang mencoba mengkaji bagaimana Negara Dunia Ketiga dapat membangun seperti Negara Dunia Pertama tanpa mengacu pada komunisme juga mendasari teori ini.
Di awal perumusannya tahun 1950-an, aliran modernisasi mencari bentuk teori dan mewarisi pemikiran-pemikiran dari teori evolusi dan fungsionalisme. Teori evolusi dan fungsionalisme pada waktu itu dianggap mampu menjelaskan proses peralihan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern di Eropa Barat, selain juga didukung oleh para pakar yang terdidik dalam alam pemikiran struktural-fungsionalisme.  Teori evolusi menggambarkan perkembangan masyarakat sebagai gerakan searah seperti garis lurus. Kita dapat melihatnya dalam karya-karya Spencer dan Comte.  Teori fungsionalisme dari Talcott Parsons beranggapan bahwa masyarakat tidak ubahnya seperti organ tubuh manusia yang memiliki berbagai bagian yang saling bergantung.
Selain itu, teori modernisasi pun didukung oleh tokoh-tokoh seperti Neil Smelser dengan teori diferensiasi strukturalnya. Smelser beranggapan dengan proses modernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Pun dengan Rostow yang menyatakan bahwa ada lima tahapan pembangunan ekonomi. Ia merumuskannya ke dalam teori tahapan pertumbuhan ekonomi, yaitu tahap masyarakat tradisional, prakondisi lepas landas, lepas landas, bergerak ke kedewasaan, dan berakhir dengan tahap konsumsi massal yang tinggi. Di samping itu, ada beberapa varian teori modernisasi lain seperti Coleman dengan diferensiasi dan modernisasi politik-nya, Harrod-Domar yang menekankan penyediaan modal untuk investasi pembangunan, McClelland dengan teori need for Achievement (n-Ach)-nya, Weber dengan “Etika Protestan”-nya, Hoselitz yang membahas faktor-faktor nonekonomi yang ditinggalkan Rostow yang disebut faktor “kondisi lingkungan”, dan Inkeles yang mengemukakan ciri-ciri manusia modern.
 Satu hal yang menonjol dari teori ini adalah modernisasi seolah-olah tidak memberikan celah terhadap unsur luar yang dianggap modern sebagai sumber kegagalan, namun lebih menekankan sebagai akibat dari dalam masyarakat itu sendiri. Alhasil faktor eksternal menjadi terabaikan. Teori modernisasi memberikan solusi, bahwa untuk membantu Dunia Ketiga termasuk kemiskinan, tidak saja diperlukan bantuan modal dari negara-negara maju, tetapi negara itu disarankan untuk meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional dan kemudian melembagakan demokrasi politik (Garna, 1999: 9).
Karena berpatokan dengan perkembangan di Barat, modernisasi diidentikkan dengan westernisasi. Teori ini pun kurang mampu menjawab kegagalan penerapannya di Amerika Latin, tidak memperhatikan kondisi obyektif masyarakat, sejarah dan tradisi lama yang masih berkembang di Negara Dunia Ketiga. Untuk menjawabnya, muncullah teori modernisasi baru. Bila dalam teori modernisasi klasik, tradisi dianggap sebagai penghalang pembangunan, dalam teori modernisasi baru, tradisi dipandang sebagai faktor positif pembangunan. Namun, tetap saja baik teori modernisasi klasik, maupun baru, melihat permasalahan pembangunan lebih banyak dari sudut kepentingan Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

a.      Pengertian dan Asumsi-asumsi
Menurut Widjojo Nitisastro, modernisasi adalah suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis. Soerjono Soekanto mengartikan modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan social planning. Wilbert Moore mendefinisikan modernisasi sebagai transformasi total masyarakat tradisional atau pra-modern ke tipe masyarakat teknologi dan organisasi sosial yang menyerupai kemajuan dunia barat yang ekonominya makmur dan situasi politiknya stabil.
Teori modernisasi memiliki asumsi-asumsi dasar seperti:
1)        Modernisasi merupakan proses bertahap. Resep pembangunan yang ditawarkannya bisa berlaku untuk siapa, kapan, dan dimana saja.
2)        Modernisasi juga merupakan proses homogenisasi. Homogenitas melalui pengembangan sektor ekonomi itu terkesan dipaksakan dari kondisi yang heterogen, hal itu kemudian menjadikan pula ketimpangan pembangunan antardaerah dan antarsektor.
3)        Dalam wujudnya, modernisasi terkadang dianggap sebagai proses Eropanisasi atau Amerikanisasi, atau yang lebih populer westernisasi (modernisasi sama dengan dunia Barat).
4)        Modernisasi dilihat sebagai proses yang tidak bergerak mundur.
5)        Modernisasi merupakan perubahan yang diinginkan dan dibutuhkan (progresif) serta terus-menerus (immanent).
6)        Modernisasi memerlukan waktu panjang.
7)        Perkembangan masyarakat dapat dilakukan dengan menciptakan proses diferensiasi struktural.
8)        Diciptakan lapangan kerja dan struktur-struktur baru dalam masyarakat.
9)        Perbedaan kemajuan masyarakat terjadi karena perbedaan kondisi internal.
10)    Kapasitas masyarakat lebih maju dari masyarakat lain karena semata-mata faktor internal dan yang utama adalah ‘cultural deficiency’.

b.      Implikasi
Teori modernisasi melihat hubungan antara Negara Dunia Pertama (Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya) dengan Negara Dunia Ketiga layaknya hubungan antara masyarakat modern dengan tradisional. Hubungan ini mencerminkan kuatnya pengaruh Barat sebagai role-model terhadap Timur. Hal ini membuat negara berkembang harus selalu berkaca kepada Barat untuk melakukan modernisasi—membuat Barat dengan mudah menanamkan nilai-nilainya kepada mereka. Negara Dunia Ketiga dengan sendirinya harus menolak paham komunis sebagaimana Negara Dunia Pertama menolaknya. Termasuk menerima dominasi asing yang kini dilembagakan dalam hukum formal. Bantuan asing berupa modal dan investasi bertebaran di negara-negara berkembang seperti padi di sawah. Dari penjelasan di atas, teori modernisasi pun memberikan implikasi akan adanya perubahan/transformasi yang direncanakan pemerintah (top-down).

2.      Teori Dependensi
Teori dependensi lahir sebagai hasil “revolusi intelektual” secara umum pada pertengahan tahun 60-an sebagai tantangan para ilmuwan Amerika Latin terhadap pandangan Barat mengenai pembangunan. Teori ini merupakan kritik terhadap teori modernisasi. Dasar pemikiran teori ini adalah pandangan Marx tentang masyarakat sebagai satu kesatuan sistem atas dua struktur utama: struktur atas dan bawah dimana struktur atas yang berupa sistem budaya, ideologi, politik dan sosial digerakkan oleh struktur bawah yang merupakan sistem ekonomi. Teori ini melihat ketidakseimbangan dalam hubungan antara Negara Dunia Ketiga dengan Negara Dunia Pertama karena mereka akan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral. Sebagai hasilnya, Negara Dunia Ketiga menjadi miskin, terbelakang, dan kondisi politik ekonominya tidak stabil. Hal ini adalah pemikirannya Paul Baran, salah satu tokoh teori dependensi. Ia mengelompokkan ‘dua dunia’ tersebut sebagai negara kapitalis (negara pusat) dan pra-kapitalis (kapitalis pinggiran)—yang tidak akan pernah bisa menjadi besar. Sedangkan Andre Gunder Frank membagi negara-negara di dunia ini atas dua kelompok yaitu negara metropolis maju dan negara-negara satelit yang terbelakang. Hubungan ketergantungan seperti ini disebut Frank sebagai metropolis-satelite relationship. Menurutnya, suatu pembangunan di negara satelit dipengaruhi oleh 3 komponen utama, yaitu modal asing, pemerintah lokal negara satelit, dan kaum borjuis lokal. Hasil pembangunan hanya terjadi di tiga kalangan tersebut, sedangkan rakyat kecil hanya sebagai buruh. Baran dan Frank menyarankan agar Negara Dunia Ketiga harus melakukan industrialisasi sendiri, tidak mengimpor teknologi, meninjau hutang dan perdagangan dengan negara pusat. Dos Santos juga menyatakan, mirip dengan Prebisch, bahwa hubungan antara negara dominan dengan negara tergantung merupakan hubungan yang tidak sederajat, karena pembangunan di negara dominan terjadi atas biaya yang dibebankan pada negara bergantung. Melalui kegiatan pasar yang monopolistik dalam hubungan perdagangan internasional, hubungan utang-piutang dan ekspor modal dalam hubungan perdagangan modal, surplus ekonomi yang dihasilkan di negara tergantung mengalir dan berpindah ke negara dominan. Menurut Santos, dua bentuk ketergantungan pertama, adalah ketergantungan kolonial dan ketergantungan industri keuangan, selain itu ia pun menyebutkan jenis ketergantungan yang lain yaitu ketergantungan teknologis-industrial.
Packenham menyebutkan kekuatan teori dependensi yakni menekankan pada aspek internasional, mengaitkan perubahan internal negara pinggiran dengan politik luar negeri negara maju, menekankan pada kegiatan sektor swasta dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan-perusahaan multinasional, membahas hubungan antar kelas yang ada di dalam negeri dan hubungan kelas antarnegara dalam konteks internasional, memberikan definisi yang berbeda tentang pembangunan ekonomi (tentang kelas-kelas sosial, antardaerah, dan antarnegara). Namun, kelemahannya antara lain: hanya menyalahkan kapitalisme sebagai penyebab dari ketergantungan, konsep kunci—termasuk konsep ketergantungan itu sendirikurang didefinisikan secara jelas hanya didefinisikan sebagai konsep dikotomi, tidak ada kemungkinan lepas dari ketergantungan, selalu dianggap sebagai sesuatu yang negatif, kurang membahas aspek psikologi, terlalu jauh beranggapan bahwa ada kepentingan yang berbeda antara negara-negara pusat dan negara-negara pinggiran, ketidakjelasan konsep yang  membatasi teori tersebut, menganggap aktor politik sebagai boneka kepentingan modal asing, kurang dikaji secara rinci dan tajam dan dalam konteks Timur, teori ini tidak mampu melihat fenomena bangkitnya negara-negara “Macan Asia” dan runtuhnya sosialisme.
Bila teori dependensi Klasik melihat situasi ketergantungan sebagai suatu fenomena global dan memiliki karakteristik serupa tanpa megenal batas ruang dan waktu, teori dependensi Baru melihat melihat situasi ketergantungan tidak lagi semata disebabkan faktor eksternal, atau sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasi regional dan keterbelakangan. Ketergantungan merupakan situasi yang memiliki kesejarahan spesifik dan juga merupakan persoalan sosial politik.

a.      Pengertian dan Asumsi-asumsi
Dos Santos mengemukakan ketergantungan merupakan keadaan dimana perekonomian negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara-negara lain, dimana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Hubungan ketergantungan terjadi bila negara yang dominan dapat memperluas dan mempertahankan diri, tapi sebaliknya tidak terjadi pada negara pinggiran.
Asumsi-asumsi dasar teori dependensi mencakup:
1)      Keadaan ketergantungan dilihat sebagai suatu gejala yang universal, berlaku bagi seluruh negara dunia Ketiga.
2)      Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh faktor luar eksternal.
3)      Situasi ketergantungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses polarisasi regional ekonomi global.
4)      Keadaan ketergantungan dilihat sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang dengan pembangunan.
5)      Perkembangan masyarakat didasarkan atas konflik yang terjadi. Konflik-konflik yang tercipta justru membawa perubahan masyarakat secara global.
6)      Solusi yang dikemukakan teori ketergantungan klasik bahkan melepaskan diri dari hubungan dengan negara maju (berdikari).

b.      Implikasi
Implikasi kebijaksanaan pembangunan dengan model dependensi di antaranya adalah negara pinggiran harus memutuskan hubungan dengan negara sentral. Seperti saran Baran dan Frank di atas, hal itu demi berkurang atau bahkan menghilangnya intervensi dan pengaruh asing di negara yang didominasi. Dengan begitu, negara pinggiran akan berusaha mandiri. Mengingat negara sentral sekarang adalah negara-negara maju yang menganut paham liberal-kapitalis, maka dengan berkurangnya pengaruh mereka tumbuhlah benih-benih sosialisme. Yang memungkinkan terjadinya revolusi sosialis di tubuh negara pinggiran. Maka, negara-negara yang memakai teori ini akan—kalau tidak disebut berpatokan—mengarah pada perwujudan sosialisme, seperti akar historis kelahiran teori ini.


Referensi:
Garna, Y. K. (1999). Teori Sosial dan Pembangunan Indonesia: Suatu Kajian melalui
Diskusi. Bandung: Primaco Academika.
Hettne, B. (2001). Teori Pembangunan dan Tiga Dunia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Suwarsono, & So, A. Y. (1991). Perubahan Sosial dan Pembangunan di Indonesia. Jakarta:
LP3ES.
%20SYARIF%20MOEIS/MAKALAH%20%2012.pdf (diakses tanggal 12 Mar. 2011)
perspektif-arief-budiman.pdf (diakses tanggal 12 Mar. 2011)
Desemver%20&%20oleh=Irman (diakses tanggal 12 Mar. 2011)

Poskan Komentar