Verifikasi, Falsifikasi dan Paradigma Ilmu Pengetahuan

Pendekatan verifikasi menyatakan sesuatu baru layak disebut ilmu pengetahuan jika pernyataan-pernyataannya dapat diverifikasi, yakni dapat dibuktikan kebenarannya oleh panca indera. Pendekatan ini merupakan prinsip positivisme atau naturalisme. Pendekatan verifikasi menghendaki adanya bukti empirik terhadap hipotesa sebelum dia menjadi sebuah teori. Dalam pembuktiannya, pendekatan verifikasi menggunakan metode induktif dimana fakta-fakta dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian membuat generalisasi. Pendekatan ini lazim digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Jika beberapa materi A tidak ada yang bersifat B, A pasti tidak bersifat B. Generalisasi tidak memeriksa seluruh A dan menyimpulkan sifat A, tetapi hanya mengambil sampel saja.

Kalau verifikasi digunakan untuk mencari kebenaran suatu teori, maka falsifikasi digunakan untuk mencari kesalahan sebuah teori. Suatu teori harus falsifiable, yaitu berpeluang untuk disalahkan secara induktif-empiris atau deduktif-rasional. Semakin besar kemungkinan atau peluang untuk disanggah, semakin baik dan kokoh validitas teori itu . Hal itu karena teori yang disanggah akan terus memperbaiki diri dan semakin lama semakin kuat bangunannya. Hipotesa yang dipakai sebelum teori tersebut dapat dibuktikan pun dicari kesalahannya. Jika terdapat kesalahan dalam hipotesa maka gugurlah hipotesa berikut teori yang akan dibangun.


Pendekatan falsifikasi dikembangkan oleh Karl Raymund Popper, seorang doktor filsafat yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu. Ia mencela pendekatan induktif yang dipakai verifikasi karena menurutnya, ilmu pengetahuan yang berdiri di atas dogma verifikatif itu justru telah kehilangan daya rasional-kritisnya. Popper menilai generalisasi adalah proses penyimpulan keyakinan yang sifatnya tebakan logis. Dengan begitu, ia menegaskan bahwa suatu teori ilmiah tidak pernah benar secara definitif. Kritik lainnya yang dikemukakan Popper adalah bahwa prinsip verifikasi tidak pernah mungkin untuk menyatakan kebenaran hukum-hukum umum. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan alam yang kebanyakan terdiri dari hukum-hukum umum, tidak bermakna seperti metafisika. Popper pun menyatakan bahwa ilmu pengetahuan pun lahir dari pemikiran metafisis, walaupun keilmiahannya tetap harus diuji.

Kebenaran menurut falsifikasionis merupakan sebuah masalah karena suatu ilmu pengetahuan tidak akan pernah mencapai taraf kebenaran dalam konteks falsifikasi. Kegiatan ilmiah hanya sanggup melangkah mendekati kebenaran atau menyerupai kebenaran. Teori adalah hipotesa yang belum dibuktikan kesalahannya dan teori yang dapat bertahan dari falsifikasi akan diterima secara tentatif sebagai kebenaran.

Pendekatan falsifikasi pun mengundang kritik. Validitas pendekatan ini hanya pada unsur-unsur struktur epistemologis, bukan fundamental. Pendekatan ini terbentur pada masalah genesis, yaitu kelahiran ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan yang baru tidak bisa dinilai benar atau salahnya. Dalam pendekatan verifikasi, ilmu pengetahuan ini dapat menjadi benar. Namun dalam falsifikasi, ilmu pengetahuan baru ini bisa saja salah. Thomas Kuhn kemudian mengajukan pendekatan yang lebih fragmentaris yang cenderung terspesialisasi berdasarkan langkah-langkah ilmiah menurut bidangnya masing-masing. Ia menamakannya paradigma. Istilah ini mengacu pada satu set praktek-praktek, seperti metode observasi dan interpretasi, dan asumsi dasar atau nilai-nilai yang mendefinisikan disiplin ilmu selama periode waktu tertentu. Paradigma ilmu pengetahuan mengandung pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang akan diamati dan diteliti, jenis pertanyaan yang seharusnya ditanyakan dan diselidiki untuk jawaban yang berkaitan dengan subyek ini, bagaimana pertanyaan-pertanyaan ini harus terstruktur, bagaimana hasil penyelidikan ilmiah harus ditafsirkan, dan sebagainya.

Paradigma umum diperlukan untuk menjadi dasar tunggal dalam menerapkan pendekatan ini. Namun, tiap ilmuwan dapat menciptakan aturan dan metode penelitian dan pengkajian sendiri sesuai dengan keperluan, sepanjang aturan dan metode ini diderivasi dari paradigma yang berlaku. Tetapi, jika paradigmanya belum mapan, maka perangkat aturan dalam paradigma yang umum akan menjadi penting sebagai model atau contoh. Paradigma ilmu pengetahuan terdiri dari beberapa macam, seperti:
  • Paradigma Kualitatif, yaitu proses penelitian yang berdasarkan metodologi yang menyelidiki fenomena sosial untuk menemukan teori dari lapangan secara deskriptif dengan menggunakan metode berpikir induktif.
  • Paradigma Deduksi dan Induksi. Pada deduksi, penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif; data yang terkumpul dianalisis kemudian diambil kesimpulan. Sedangkan pada induksi, penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif; data dikumpulkan dengan observasi, dibuat hipotesis, kemudian diambil kesimpulan setelah pengujian.
  • Paradigma Rekonstruksi Teori, yaitu model penyelidikan ilmiah dengan merancang kembali teori atau metode yang ada dan digunakan dalam penelitian. Pemilihan dan penguasaan teori tertentu yang dianggap relevan dengan penelitian sangat menunjang keberhasilan teorinya.
  • Paradigma Siklus Empiris, yaitu model penyelidikan ilmiah berupa siklus yang memudahkan peneliti dan ilmuwan membentuk pola pikirnya.
  • Paradigma Paramida, yaitu model penyelidikan ilmiah yang tahapannya seperti piramida, terdiri atas piramida berlapis, ganda, dan terbalik. Pada piramida berlapis, semakin ke atas artinya pembentukan teori baru semakin tercapai. Piramida ganda dibuat berdasarkan piramida yang telah ada. Sedangkan piramida terbalik dibuat berdasarkan teori yang sudah ada.

Revolusi ilmu pengetahuan yang awalnya dilakukan falsifikasionis, kini digeser dengan pendekatan paradigma. Tahap perkembangan ilmu pengetahuan dapat menggeser paradigma lama menuju paradigma baru. Bangunan teori yang disanggah/disalahkan oleh falsifikasionis hanya berada di tingkat epistemologi, sedangkan pergeseran paradigma melibatkan perubahan pola pikir ilmuwan tersebut. Paradigma baru menciptakan bangunan teori baru yang berbeda dari sebelumnya sehingga status ilmu pengetahuannya pun berubah mengikuti paradigma yang ada.

1 comments:

Waw keren. .tambah ilmu nih (y)

Reply

Poskan Komentar