Masyarakat yang Rasional Menurut Durkheim dan Weber

Konsep masyarakat yang rasional sebenarnya lebih dijelaskan oleh Max Weber. Bahkan masalah rasionalitas adalah titik pusat perhatiannya untuk menjelaskan tindakan sosial. Rasional yang menurut kita adalah masuk akal dan sesuai hukum alam, dipahami Weber sebagai makna obyektif atas tindakan subyektif individu. Tindakan rasional menurutnya berkaitan dengan pertimbangan sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan. Masyarakat yang rasional, didasarkan atas prinsip-prinsip ini. Sejalan dengan Weber, Durkheim menganggap bahwa masyarakat yang rasional dicirikan dengan pembagian kerja yang rasional, berdasarkan pertimbangan atas tujuan yang ingin dicapai. Pemahaman mereka berdua mengenai konsep masyarakat yang rasional akan dijelaskan berikut ini.
Dalam mengamati gejala-gejala di masyarakat, banyak tindakan-tindakan subyektif yang hanya bisa dimaknai dengan analisa obyektif. Dengan kata lain, kita bisa memahami tindakan subyektif seseorang lewat rasio. Rasionalitas mengacu pada perhitungan yang masuk akal untuk mencapai sasaran berdasarkan pilihan-pilihan dan perangkat kerja yang efisien.
Tindakannya diarahkan pada tujuan. Orang yang memilih baju yang murah dibanding yang mahal disebut rasional. Namun, orang yang marah, sedih, takut, dan lain-lain yang diungkapkan dengan bentuk yang sepintas lalu tampak tidak rasional. Kita baru bisa menjelaskan perilakunya itu jika kita tahu emosi yang mendasari perbuatan tersebut.
Weber membagi rasionalitas menjadi 4:
·         Rasionalitas praktis. Tindakan sosial dalam rasionalitas ini diarahkan pada tujuan yang ditentukan oleh harapan terhadap perilaku objek dalam lingkungan dan perilaku manusia lain. Kepentingan diri sendiri menjadi sentral dan sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan dipertimbangkan sesistematis mungkin. Untuk sampai ke tujuan, tindakan yang diambil seefisien mungkin dengan cara yang terbaik.
·         Rasionalitas formal. Hampir sama dengan rasionalitas praktis, namun yang diperhitungkan adalah garis arah tindakan yang didasarkan atas peraturan umum, seperti dalam hukum.
·         Rasionalitas substansial. Ukuran tindakan dalam rasionalitas jenis ini adalah nilai. Seseorang berperilaku sesuai dengan nilai yang ia miliki dan yakini.
·         Rasionalitas teoretis. Rasionalitas ini mencakup penguasaan teoretis atas realitas dibantu pengertian-pengertian abstrak. Seseorang tidak mempunyai orientasi tindakan sosial yang jelas tapi tindakannya muncul dari upaya memberi arti pada realitas.

Doyle menjelaskan kembali rasionalitas Weber ini dalam hubungannya dengan tindakan sosial. Ia menyebutkan 4 tipe tindakan dasar, yang dibedakan atas motif pelakunya, yaitu:
1.      Rasionalitas sarana-tujuan/instrumental. Tindakan sosial pada rasionalitas ini sama dengan rasionalitas praktis di atas, orientasi tindakan terarah pada efisiensi. Contohnya seseorang yang ingin mudah diterima di dunia kerja, lalu memutuskan untuk belajar komputer. Setelah menimbang-nimbang, ia akhirnya memutuskan cara terbaik untuk membeli komputer dan belajar langsung daripada membacanya dari buku.
2.      Rasionalitas nilai (berorientasi nilai). Dalam tindakan tipe ini, seseorang tidak dapat menilai apakah cara yang dipilihnya adalah cara yang paling tepat mencapai tujuannya. Tujuan dan cara-cara mencapainya cenderung sulit dibedakan. Tindakan tipe ini digerakkan oleh keyakinan akan nilai perilaku etis, estetis, religius atau bentuk perilaku lain, yang terlepas dari prospek keberhasilannya. Misalnya seseorang yang solat. Ia tidak mengerti buat apa ia solat, tapi nilai yang ia yakini mewajibkannya untuk solat sebagi tuntutan agama.
3.      Tindakan afektif. Tindakan ini ditentukan oleh kondisi emosi seseorang, seperti marah, gembira, dan sebagainya.
4.      Tindakan tradisional. Tipe ini adalah tindakan yang sudah lazim dilakukan, seperti makan dengan tangan kanan dan menghormat kepada yang tua. Tindakan tradisional dan afektif merupakan tindakan yang tidak rasional, oleh karenanya kurang mendapat perhatian Weber.
Dengan rasionalitas, berkembanglah kebudayaan modern sebagai proses diferensiasi dalam berbagai bidang kehidupan. Diferensiasi tersebut bermuara pada terbentuknya sistem ekonomi kapitalis dan negara modern. Masyarakat rasional menurut Weber, mewujud dalam sistem kapitalisme yang memungkinkan perusahaan menghitung modal secara rasional—untung dan ruginya diungkapkan dalam uang. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan untung yang dihitung dengan tata buku modern dan pembuatan neraca itulah yang disebut kapitalisme rasional. Eksisnya kapitalisme ini tergantung dari beberapa hal: adanya buruh-buruh bebas yang terpaksa untuk menjual tenaganya demi memperoleh penghasilan untuk kehidupannya; tidak ada pembatasan-pembatasan yang menjadi hambatan atas pertukaran di pasar; teknologi yang dapat dikonstruksi, diorganisasi dan dimekanisasi atas prinsip-prinsip rasional; terdapat pasar bebas dan semua sarana produksi milik swasta yang berarti pemisahan perusahaan produksi dari rumah tangga. Weber berkata, “Yang akhirnya menciptakan kapitalisme ialah perusahaan tahan lama yang rasional, tata buku rasional, teknik rasional, hukum rasional, tetapi bukan itu saja; harus pula ditambahkan kecenderungan rasional, rasionalisasi cara hidup, motivasi ekonomi yang rasional.”[1] Dan kapitalisme modern membuktikan hal ini.
Semua atribut ekonomi di atas, tidak akan ada tanpa administrasi sah yang rasional dari negara modern. Birokrasi, menurut Weber, adalah contoh lain rasionalitas yang ideal karena efisien, sistematis, dan dapat diramalkan. Porsi-porsi kekuasaan diatur berdasarkan pemikiran yang rasional dan dilegalkan dalam sebuah hukum. Hubungan antar kekuasaan diatur seefisien mungkin sehingga memudahkan penyelenggaraan negara mencapai tujuannya. Posisi politik disusun secara hirarkis dan otonom namun terikat satu sama lain serta tidak menghambat fungsi dari masing-masing posisi. Hubungan antara kapitalisme dan negara modern ini adalah timbal balik. Kapitalisme membutuhkan perangkat mekanisme administratif dalam bentuk birokrasi yang tersentralisasi. Sedangkan negara diperkuat oleh komersialisasi dan penyebaran kapitalisme yang secara evolutif menguatkan identitas kebangsaan suatu kelompok masyarakat.
Kalau Weber berpandangan bahwa masyarakat berubah secara linier dari masyarakat yang dipenuhi mistik dan takhayul menuju masyarakat rasional, maka Durkheim melihat masyarakat terbagi dalam proses diferensiasi kerja. Masyarakat tradisional cenderung mengedepankan keseragaman sosial yang diikat oleh ide bersama dengan solidaritasnya yang mekanis. Sedangkan masyarakat modern dicirikan dengan solidaritas organik. Jika kita menganggap rasionalitas Weber ada dalam masyarakat modern, maka rasionalitas itu ada pula dalam masyarakat modernnya Durkheim.
Fokus teoretis Durkheim dalam membaca masyarakat adalah persoalan solidaritas. Solidaritas adalah hubungan antar individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Durkheim membedakan solidaritas menjadi 2 macam: solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik dicirikan dengan pembagian kerja yang rendah, kesadaran kolektif kuat, hukum represif dominan, individualitas rendah, konsensus terhadap pola-pola normatif, keterlibatan komunitas dalam menghukum, ketergantungan relatif rendah, bersifat primitif atau pedesaan. Sedangkan solidaritas organik dicirikan dengan pembagian kerja yang tinggi, kesadaran kolektif lemah, hukum restitutif dominan, individualitas tinggi, konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum, keterlibatan badan kontrol sosial dalam menghukum, ketergantungan tinggi, bersifat industrial-perkotaan.
Pembagian kerja menjadi sumber terpenting dari solidaritas. Hal itu dapat diukur dari dari peraturan-peraturan hukum.  Klasifikasi peraturan-peraturan hukum tersebut adalah berdasarkan sanksi yang dijatuhkan. Sanksi yang represif adalah khas solidaritas mekanik karena hukum dalam solidaritas ini mendefinisikan perilaku penyimpangan sebagai sesuatu yang dapat mengancam kesadaran kolektif dan keteraturan sosial masyarakat. Dalam pemberian hukuman, dibalaslah ancaman tersebut dengan kemarahan dan penderitaan supaya kesadaran kolektif masyarakat dapat dipersegar dan diperkuat kembali. Sanksi dalam masyarakat dengan solidaritas jenis ini tidak dimaksudkan sebagai proses yang rasional karena tidak mempertimbangkan bentuk kejahatannya.
Solidaritas mekanik biasa didapati pada masyarakat tradisional yang hampir tidak mengenal pembagian kerja. Seluruh kehidupan dipusatkan pada kepala suku. Homogenitas yang ada pada mereka menjadikan identitas sosial mereka kuat, yang pada gilirannya akan menguatkan ikatan sosialnya. Apalagi kepatuhan terhadap nilai-nilai tradisional dan pengenaan hukum yang represif, semakin menambah kekompakan dan integrasi sosial mereka baik normatif maupun koersif.
Semakin maju zaman, semakin kompleks masyarakat. Tingkat keberagaman meningkat dan ikatan-ikatan atas dasar nilai-nilai bersama pudar. Masyarakat di abad modern ini dicirikan dengan hubungan spesialisasi dan pembagian kerja. Hal itu karena semakin banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama. Pembagian peran mengarah pada berkembangnya individualitas dan ketergantungan fungsional sehingga hukum yang represif tidak dikehendaki lagi. Dibutuhkan aturan-aturan baru yang sifatnya memulihkan, daripada membalas. Masyarakat berubah dari yang tadinya bersolidaritas mekanis menjadi solidaritas organis. Tipe sanksi yang diterapkan bersifat restitutif karena masyarakat semakin rasional mengelola hidupnya dan oleh karena itu hukuman pun harus bersifat rasional disesuaikan dengan bentuk pelanggarannya. Dengan demikian akan terpulihkan kondisi ketergantungan fungsional dalam masyarakat. Rasionalitas seperti ini tidak bisa tidak ada pada masyarakat yang mengenal pembagian kerja. Dan tidak ada yang lebih kompleks daripada kehidupan perkotaan/industrial. Semua orang dituntut melakukan tugas sesuai fungsi dan wewenangnya. Semua saling tergantung karena hukum kontrak dan dilindungi oleh aturan-aturan di atasnya.
Kesamaan Weber dan Durkheim mengenai rasionalitas ada pada titik ini. Weber memandang kapitalisme dan birokrasi sebagai bentuk rasionalitas manusia. Kapitalisme itu mewujud dalam kehidupan industrial yang memiliki pembagian kerja di dalamnya. Birokrasi pun memiliki hubungan spesialisasi dimana satu dengan yang lain saling tergantung. Namun, Durkheim lebih memberi penekanan pada pengenaan hukum yang restitutif sebagai hukum rasional karena mempertimbangkan pelanggaran yang dilakukan. Meskipun Durkheim melihat kategori ini pada agama, Weber melihat agama dari segi yang lain, yaitu segi kapitalisme agama yang pada waktu itu dipengaruhi oleh Calvinisme.
Di atas semua itu, masyarakat yang rasional, baik dalam pengertian Weber maupun Durkheim, memiliki diferensiasi yang menyebabkan mereka harus membagi kerja secara rasional, menerapkan aturan dan mekanisme yang rasional, dan memberlakukan sanksi yang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Modernisasi seakan menjawab hal tersebut. Sehingga dapat kita katakan bahwa masyarakat yang rasional adalah masyarakat modern.






Referensi:
Giddens, A. (1986). Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis terhadap Karya
Tulis Marx, Durkheim, dan Max Weber. Jakarta: UI-Press.
Halim, F. A. (2002). Beragama dalam Belenggu Kapitalisme. Magelang : IndonesiaTera.
Johnson, D. P. (1994). Teori Sosiologi: Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Laeyendecker, P. D. (1991). Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah
Sosiologi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hadi. (2010, Juli 19). Sedikit Tentang Max Weber. Diakses Maret 24, 2011, dari
http://filsafat.kompasiana.com/2010/07/19/sedikit-tentang-max-weber/
Solidaritas sebagai Fakta Sosial. Diakses Maret 24, 2011, dari http://mangozie.net/?p=409



[1] L. Laeyendecker, Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991, hal.338.

1 comments:

pilat

Reply

Poskan Komentar