Sosialisasi - Sebuah Pengantar Sosiologi

BAB I
PENDAHULUAN

Sosialisasi adalah proses wajar seorang individu sebagai makhluk sosial. Banyak konsep-konsep sosialisasi yang harus kita pahami. Di antaranya adalah tipe-tipe sosialisasi, pola dan bentuknya, proses sosialisasi dalam diri seseorang, agen-agen sosialisasi, pemikiran para ahli tentang sosialisasi dan konsep diri, dan sebagainya.
            Makalah ini berusaha mengungkap konsep umum dari sosialisasi yang kerap kita lakukan. Begitu pentingnya masalah ini sehingga kami merasa perlu untuk diadakan diskusi lebih lanjut mengenai hal ini. Hal ini karena sosialisasi adalah proses seumur hidup maka dari itu pembahasan akan hal ini masih panjang.
            Konsep-konsep yang disajikan adalah konsep dasar untuk mengenali dan membekali pengetahuan kita tentang sosialisasi. Diharapkan mahasiswa dapat mengerti tentang sosialisasi dan berminat mengkajinya lebih dalam.




BAB II
KONSEP SOSIALISASI

MEMAHAMI SOSIALISASI
Sosialisasi merupakan sebuah proses paling penting yang secara sadar atau tidak selalu kita jalani setiap harinya. Sosialisasi sendiri dapat diartikan sebagai sebuah proses pengenalan nilai-nilai yang sedemikian rupa hingga akhirnya terbentuk suatu individu yang utuh. Maka dapat dikatakan apabila seorang individu tidak pernah melakukan sosialisasi dengan sempurna, ia dapat diibaratkan sebagai seorang individu yang tidak utuh.
Terdapat beberapa teori yang dikemukakan untuk memahami lebih jauh mengenai sosialisasi. Meskipun teori-teori tersebut bukanlah sebuah teori yang didasarkan pada bukti empiris, namun teori-teori tersebut berusaha menjelaskan persoalan mengenai sosialisasi dengan masing-masing cara yang mereka percayai benar. Berikut adalah beberapa teori yang telah terkenal mengenai sosialisasi :

·         Looking Glass Self Theory oleh Charles Horton Cooley (Cermin Diri)
Menurut pemikiran dari Cooley (1864-1929), seseorang akan melihat pantulan dirinya berdasarkan apa yang dipikirkan orang lain terhadap dirinya dan kemudian pantulan yang ia terima tersebut akan ia pantulkan lagi menjadi bagaimana caranya ia bersikap. Contoh: seorang anak yang sering diberitahu bahwa ia cantik oleh orang lain, akan merasa dirinya cantik dan istimewa sehingga ia pun akan berlaku dan berpenampilan seperti layaknya ia seorang putri. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa perbedaan cara berlaku seseorang dibentuk oleh perbedaan cara memperlakukan seorang individu tersebut.

·         Eight Stages of Development oleh Erik H. Erikson’s
Erik merupakan seorang yang berkebangsaan Jerman dan hidup di Amerika sejak tahun 1933. Berikut pokok pemikirannya.
Usia
Krisis Identitas yang Harus Dipecahkan
Kebajikan Dasar Untuk Dikembangkan
Masa bayi
Percaya Vs. tidak percaya
Harapan
Masa kanak-kanak awal (2-3 tahun)
Otonomi Vs. malu dan bimbang
Kemauan
Masa bermain (4-5 tahun)
Inisiatif Vs. rasa bersalah
Tujuan
Masa sekolah (6-11 tahun)
Kerajinan Vs. rasa rendah diri
Kecakapan
Remaja (12-18 tahun)
Identitas Vs. kekacauan peran
Kesetiaan
Dewasa ( 19-35 tahun)
Keakraban Vs. isolasi
Kasih sayang
Setengah umur (36-50 tahun)
Generativitas Vs. stagnasi
Perawatan
Masa tua (51+)
Integritas Vs. keputusasaan
Kebijakan
Sumber: Erik Erikson, Childhood and Society, W.W. Norton and Company, Inc., New York, 1963, and Youth and Crisis, W.W. Norton and Company, Inc., New York, 1968.
·         Konsep Generalisasi Orang Lain oleh George Herbert Mead
Bagi Mead, seseorang cenderung bertindak berdasarkan apa yang ia rasa diharapkan orang lain dari dirinya. Menurutnya, ada tiga tahapan di mana seseorang berhasil mencapai peranannya sebagai orang dewasa :
ü  Masa Persiapan (1-3 tahun)
Masa dimana seorang anak meniru perilaku orang lain tanpa mengetahui hal apa yang ia lakukan. Contoh: seorang anak pada umur ini sering sekali diajak bermain, misalnya ketika orang dewasa memonyongkan bibirnya ke atas maka anak tersebut akan mengikutinya tanpa mengetahu esensi dan peran dari yang ia lakukan.
ü  Masa Bermain (3-4 tahun)
Pada masa ini, mereka telah mengetahui beberapa peran yang ada di sekililingnya, misalnya dokter, polisi, dan lain-lain. Kemudian anak tersebut berusaha meniru peran orang-orang dewasa di sekitarnya secara acak agar ia dapat merasakan peran apa yang seharusnya ia lakukan.
ü  Tahap Permainan (5+)
Pada tahap ini seorang anak telah memiliki perilaku yang menetap. Misalnya ketika bermain sepak bola, ia akan mengetahui peran apa yang seharusnya ia lakukan.

TUJUAN-TUJUAN SOSIALISASI
Hal-hal berikut ini sudah dianggap merupakan tujuan-tujuan pokok proses sosialisasi, yaitu :
a.       Orang harus diberi keterampilan yang dibutuhkan bagi hidupnya kelak di masyarakat.
b.      Orang harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis dan berbicara.
c.       Pengendalian fungsi-fungsi organik harus dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
d.      Tiap individu harus dibiasakan dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada dimasyarakat.
e.       Mengajarkan peran-peran sosial dan sikap-sikap penunjangnya.

AGEN-AGEN  SOSIALISASI
Agen-agen sosialisasi ialah pihak yang melaksanakan sosialisasi. Agen-agen sosialisasi yaitu keluarga, sekolah, teman bermain dan media massa.
 
1.      Keluarga
Keluarga adalah lembaga paling terkait erat dengan sosialisasi sosial. Dalam kehidupan manusia, biasanya agen sosialisasinya terdiri atas orang tua dan saudara kandung. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada di luar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pengasuh bayi (baby sitter). Menurut Gertrudge Jaeger, peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam lingkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri. Sang anak sangat tergantung pada orang tua dan apa yang terjadi antara orang tua dan anak pada tahap ini jarang diketahui oleh pihak luar. Arti penting agen sosialisasi pertama pun terletak pada pentingnya kemampuan yang diajarkan pada tahap ini. Untuk dapat berinteraksi dengan significant others (orang dengan siapa orang berinteraksi dalam proses sosialisasi), pada tahap ini seorang bayi belajar komunikasi secara verbal dan non verbal.
           
2.      Sekolah
Agen sosialisasi yang juga dapat mempengaruhi yaitu pendidikan formal atau sering disebut sekolah. Sekolah mempersiapkannya untuk penguasaan peran-peran baru dikemudian hari, dikala seseorang tidak bergantung lagi pada orang tua. Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab. Robert Dreeben berpendapat bahwa yang dipelajari anak yang disekolah selain membaca, menulis dan berhitung adalah aturan mengenai kemandirian, prestasi, universalisme, dan spesifisitas. Sekolah adalah dunia sosial anak-anak untuk memasukkan orang dengan latar belakang yang berbeda dari mereka sendiri. Hanya karena mereka bertemu orang-orang yang berbeda dari diri mereka sendiri bahwa anak-anak datang untuk memahami pentingnya faktor seperti ras dan posisi sosial. Seperti yang mereka lakukan, mereka cenderung di kelompok bermain yang terdiri dari satu, ras kelas dan gender.

3.      Teman Bermain atau Teman Sebaya
Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu. Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.

4.      Media Masa
Media massa merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau masyarakat secara luas sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Media massa terdiri dari media cetak (surat kabar, brosur, baleho, buku, majalah, tabloid) dan media elektronik (radio, televisi, video, film, piringan hitam, kaset, CD/DVD). Media massa diidentifikasikan sebagai media sosialisasi yang berpengaruh pula terhadap sosialisasi masyarakat. Pesan-pesan yang ditayangkan melalui media elektronik dapat mengarahkan masyarakat ke arah perilaku prososial maupun antisosial.
Media massa diyakini dapat menggambarkan realitas sosial dalam berbagai aspek kehidupan. Meskipun untuk itu, informasi atau pesan (message) yang ditampilkannya sebagaimana dapat dibaca di surat kabar atau majalah, didengarkan di radio, dilihat di televisi atau internet telah melalui suatu saringan (filter) dan seleksi dari pengelola media itu untuk berbagai kepentingannya, misalnya untuk kepentingan bisnis atau ekonomi, kekuasaan atau politik, pembentukan opini publik, hiburan, hingga pendidikan.
Terlepas dari berbagai kepentingan yang melatarbelakangi pemunculan suatu informasi atau pesan yang disajikan oleh media massa, kiranya tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pada masa kini pertemuan orang dengan media massa sudah tidak dapat dielakkan lagi. Tidaklah berlebihan kiranya apabila abad ke-21 disebut sebagai abad komunikasi massa. Pesatnya perkembangan media informasi dan komunikasi, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), akan membawa perubahan peranan sebagai penyampai pesan/informasi.
Media masa yang paling berpengaruh dalam sosialisasi adalah televisi. Dengan membaca surat kabar atau menonton TV, cakrawala pengetahuan minat dan cara panjang seseorang akan diperluas. Bimbingan orang tua atau guru dalam menyikapi dan menikmati informasi yang dimuat dalam media masa sangat diperlukan. Dengan bimbingan orang tua dan guru diharapkan anak-anak terhindar dari pengaruh negatif pemberitaan media masa dan sekaligus dapat menyerap hal-hal positif dari media massa.

JENIS SOSIALISASI
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut Goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.


·         Sosialisasi primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Sosialisasi primer akan mempengaruhi seorang anak untuk membedakan dirinya dengan orang lain yang berada di sekitarnya seperti ayah, ibu, dan saudara. Sosialisasi primer merupakan tempat menanamkan nilai-nilai budaya yang dianut keluarganya dalam hal aturan-aturan keluarga, agama, dan masyarakat.
Dalam tahap ini, individu tidak mempunyai hak untuk memilih agen sosialisasinya, individu tidak dapat menghindar untuk menerima dan menginternalisasi cara pandang keluarga.

·         Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah proses selanjutnya yang memperkenalkan individu ke dalam lingkungan di luar keluarganya, seperti : sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan kerja. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama. Termasuk di dalamnya praktik cuci otak (brainwashing) yang sering dilakukan para teroris terhadap jaringan barunya.
Beberapa lembaga yang ada dalam masyarakat berfungsi melaksanakan proses resosialisasi terhadap anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang baik yang berkadar ringan sampai berkadar berat antara lain: penjara, rumah singgah, rumah sakit jiwa, pendidikan militer dan sebagainya . Di lembaga-lembaga itu, nilai-nilai dan cara hidup yang telah menjadi milik seseorang karena tidak sesuai dengan norma dan nilai serta harapan sebagian besar masyarakat, dicabut (disosialisasi) dan digantikan dengan nilai-nilai dan cara hidup baru yang sesuai dengan harapan sebagian besar masyarakat (resosialisasi).
Bentuk yang kedua adalah sosialisasi antisipatoris. Pada proses ini, individu dipersiapkan untuk perubahan status dan peran yang baru. Sosialisasi ini terjadi menjelang kita beralih dari suatu jenjang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dari dunia sekolah ke dunia kerja, dari dunia kerja ke kehidupan pensiunan, dan sebagainya.

TIPE SOSIALISASI
Ada 2 tipe sosialisasi, yakni :
1.      Sosialisasi Formal
Terjadi melalui lembaga yang dibentuk oleh pemerintah dan masyarakat yang memiliki tugas khusus dalam mensosialisasikan nilai, norma dan peranan-peranan yang harus dipelajari oleh masyarakat. Seperti sekolah, pendidikan militer dan lingkungan kerja.
 2.      Sosialisasi Informal
Terjadi di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan. Seperti antar teman, sahabat, anggota klub, dan kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

Baik sosialisasi formal maupun sosialisasi informal tetap mengarah kepada pertumbuhan pribadi anak agar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungannya. Dalam lingkungan formal seperti di sekolah, seorang siswa bergaul dengan teman sekolahnya dan berinteraksi dengan guru dan karyawan sekolahnya. Dalam interaksi tersebut, ia mengalami proses sosialisasi. dengan adanya proses soialisasi tersebut, siswa akan disadarkan tentang peranan apa yang harus ia lakukan. Siswa juga diharapkan mempunyai kesadaran dalam dirinya untuk menilai dirinya sendiri. Misalnya, apakah saya ini termasuk anak yang baik dan disukai teman atau tidak? Apakah perliaku saya sudah pantas atau tidak?
Meskipun proses sosialisasi dipisahkan secara formal dan informal, namun hasilnya sangat sulit untuk dipisah-pisahkan karena individu biasanya mendapat sosialisasi formal dan informal sekaligus.

POLA SOSIALISASI MENURUT JAEGER
1.      Sosialisasi represif, yaitu sosialisasi yang menekankan penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Adapun ciri-ciri sosialisasi represif di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Menghukum perilaku yang keliru.
2) Adanya hukuman dan imbalan materiil.
3) Kepatuhan anak kepada orang tua.
4) Perintah sebagai komunikasi.
5) Komunikasi nonverbal atau komunikasi satu arah yang berasal dari orang tua.
6) Sosialisasi berpusat pada orang tua.
7) Anak memerhatikan harapan orang tua.
8) Dalam keluarga biasanya didominasi orang tua.
Sosialisasi represif umumnya dilakukan oleh orang tua yang otoriter. Sikap orang tua yang otoriter dapat menghambat pembentukan kepribadian seorang anak. Anak tidak dapat membentuk sikap mandiri dalam bertindak sesuai dengan perannya. Seorang anak yang sejak kecil selalu dikendalikan secara berlebihan oleh orang tuanya, setelah dewasa ia tidak akan berani mengembangkan diri, tidak dapat mengambil suatu keputusan, dan akan selalu bergantung pada orang lain. Kata-kata ‘harus’, ‘jangan’, dan ‘tidak boleh ini dan itu’ akan selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya.

2.      Sosialisasi partisipatoris, kebalikan dari sosialisasi represif, yang menekankan pemberian imbalan ketika berperilaku baik. Sosialisasi partisipatif memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut.
1) Memberikan imbalan bagi perilaku baik.
2) Hukuman dan imbalan bersifat simbolis.
3) Otonomi anak.
4) Interaksi sebagai komunikasi.
5) Komunikasi verbal atau komunikasi dua arah, baik dari anak maupun dari orang tua.
6) Sosialisasi berpusat pada anak.
7) Orang tua memerhatikan keinginan anak.
8) Dalam keluarga biasanya mempunyai tujuan yang sama.

TAHAP SOSIALISASI
Penyesuaian diri terjadi secara berangsur-angsur, seiring dengan perluasan dan pertumbuhan pengetahuan serta penerimaan individu terhadap nilai dan norma yang terdapat dalam lingkungan masyarakat. Dengan melandaskan pemikirannya pada Teori Peran Sosial, George Herbert Mead dalam bukunya yang berjudul Mind, Self, and Society from The Standpoint of Social Behaviorist (1972) berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat diklasifikasikan melalui tahap-tahap berikut ini.
a. Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya. Pada tahap ini juga anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna. Dalam tahap ini, individu sebagai calon anggota masyarakat dipersiapkan dengan dibekali nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pedoman bergaul dalam masyarakat oleh lingkungan yang terdekat, yaitu keluarga.
Lingkungan yang memengaruhi termasuk individu yang berperan dalam tahapan ini relatif sangat terbatas, sehingga proses penerimaan nilai dan norma juga masih dalam tataran yang paling sederhana.

b. Tahap Meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan oleh seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari dirinya. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan orang-orang yang jumlahnya banyak telah juga mulai terbentuk.

c. Tahap Siap Bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat, sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama.
Pada tahap ini individu mulai berhubungan dengan temanteman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.

d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalizing Stage)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, dia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat secara luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama,  bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya. Dalam tahap ini, individu dinilai sudah mencapai tahap kematangan untuk siap terjun dalam kehidupan masyarakat. Untuk lebih mudah memahami tahapan-tahapan sosialisasi yang telah kita bahas di atas, berikut ini disajikan dalam bentuk tabel.

ISOLASI SOSIAL
Saat seorang anak diasingkan dari kehidupannya, misalnya karena ia anak hasil hubungan di luar pernikahan, ia disimpan dalam kamar pengap dalam rumahnya dan tidak dibolehkan keluar. Anak itu tetap diberi makan dan pakaian untuk bertahan hidup namun diharamkan keluar untuk bersosialisasi. Maka anak itu mengalami yang namanya isolasi sosial. Isolasi sosial ini disengaja dan membentuk kerusakan permanen dalam perkembangan otak anak.
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito, 1998)
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998)
Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998).
Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Rawlins, 1993, dikutip Budi Anna Keliat).
Penelitian menunjukkan, manusia dapat bangkit dari proses isolasi dalam jangka waktu pendek. Namun, ada bagian dari otak yang tidak akan berkembang dan rusak secara permanen jika isolasi itu terjadi pada masa kanak-kanak dimana beberapa kemampuan, seperti kemampuan berbahasa, seharusnya dipelajari. Seorang anak akan tumbuh namun kemampuan dasarnya akan seperti anak kecil—seperti keterbelakangan atau kemunduran mental hasil pendidikan yang terlambat dilaksanakan. Dia tidak akan tumbuh dewasa dan biasanya mati muda. Harlows membuktikan hal ini dengan penelitiannya pada anak kera.
Begitu pun saat ia diisolasi oleh lingkungan sekitarnya. Dia akan dijauhi dan diperlakukan berbeda oleh orang-orang. Perlakuan ini akan membentuk dirinya yang represif, penuh tekanan, dan rendah diri. Berbeda halnya jika dia yang menjauhi teman-temannya. Ia mengisolasi atau menutup dirinya dari orang lain. Orang seperti ini terkandung di dalam jiwanya sifat pemberontak walaupun orang akan menilainya sebagai orang yang dingin.
Di sini dikenal yang namanya terpencil, yaitu kehilangan suatu hubungan yang diharapkan dengan orang lain. Rasa terpencil ini bisa juga ada saat berada di tengah orang banyak, tapi orang-orang itu tidak sesuai pendidikan, agama, golongan, dan sebagainya. Manusia yang terpencil di luar masyarakat manusia, biasanya mengalami kemunduran dalam hidupnya karena sifat-sifat kemanusiaannya tak sempat berkembang. Cara menghukum pun sering didasarkan atas rasa terpencil ini.

ASPEK-ASPEK YANG MEMPENGARUHI SOSIALISASI
1.      Kesiapan atau kematangan pribadi seseorang. Pendidikan yang diberikan pada anak mensyaratkan bahwa sosialisasi memerlukan kesiapan dalam menjalani proses tersebut yaitu potensi manusia untuk belajar dan kemampuan berbahasa.
2.      Lingkungan/sarana sosialisasi : potensi manusia tidak dapat berkembang secara otomatis melainkan memerlukan lingkungan sosial yang tepat. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh : interaksi dengan sesama, bahasa, dan cinta/kasih sayang.
·   Interaksi dengan sesama: dalam interaksi diperlukan pertumbuhan kecerdasan, pertumbuhan sosial dan emosional, mempelajari pola-pola kebudayaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Melalui interaksi orang dapat belajar tentang pola perilaku yang tepat serta belajar hak, kewajiban dan tanggung jawab.
·   Bahasa: bahasa digunakan untuk mempelajari simbol-simbol kebudayaan, merumuskan dan memahami kebudayaan, memahami gagasan yang kompleks dan menyatakan pandangan maupun nilai seseorang.
·   Cinta/kasih sayang: cinta sangat diperlukan untuk kesehatan mental dan fisik seseorang. Lingkungan dimana ia tinggal sangat berpengaruh pada sosialisasi. Lingkungan yang “buruk” akan mempengaruhi perkembangan pribadinya. Contoh dari keluarga “broken home” akan berpengaruh negatif pada perkembangan   pribadi anak seperti rendah diri, suka berontak, nakal dan sebagainya.

Faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi
a.       Faktor Intrinsik : faktor yang berasal dari dalam diri individu
1)      Fisik manusia
2)      Bakat-bakat individu
3)      IQ atau kecerdasan
b.      Faktor Ekstrisik : faktor yang berasal dari luar diri individu
1)      Kondisi lingkungan keluarga
2)      Kondisi lingkungan masyarakat setempat
3)      Kondisi lingkungan pergaulan
4)      Kondisi lingkungan pendidikan
5)      Kondisi lingkungan pekerjaan
6)      Kondisi masyarakat luas

UPAYA RESOSIALISASI PELAKU PERILAKU MENYIMPANG
Membuang pelaku perilaku atau menjauhkannya adalah satu tindakan yang tidak bijak ditinjau dari segi manapun, satu kesalahan yang dilakukan remaja tidak berarti menjadikannya seseorang yang dipandang bukan lagi manusia, dia tetap menusia sempurna yang mempunyai hak dan kewajiban sebagai makhluk mulia. Satu hal yang pasti adalah usaha untuk melakukan sosialisasi kembali remaja pelaku perilaku menyimpang untuk kembali ke lingkungan sosial masyarakatnya mutlak diperlukan. Setidaknya terdapat tiga buah upaya resosialisasi remaja delinkuen:
Yang pertama adalah pendidikan, sebuah upaya untuk menjadikan seorang remaja memahami fungsinya sebagai bagian dari lingkungan sosial. Pendidikan juga berfungsi menanamkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan pada diri anak, disamping itu pendidikan mencoba untuk membentuk nilai-nilai remaja agar sesuai dengan nilai-nilai orang dewasa dan mengembangkan keterampilan sosial dan kecakapan sosial. Pendidik memegang peranan penting dalam menyukseskan misi ini, pendidik dipandang sebagai dinamisator dan motivator perkembangan mental remaja, agar sesuai dengan harapan masyarakatnya (The Ideal Society Hope) dengan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang diamanatkan lingkungan sosial kepada para remaja. Pendidik juga berperan dalam membangun sistem kepercayan, penghargaan dan ketetapan yang terjadi dibawah sadar para remaja tentang tindakan yang benar dan yang salah, untuk memastikan satu individu berusaha sesuai dengan harapan masyarakat, hal ini sesuai yang dikatakan Philip G. Zimbardo dalam Phsycology and Life (1985) tentang nilai-nilai moral.
Yang kedua adalah mengembangkan dinamika kelompok, Prof. Monk, Prof. Knoers dan DR. Sri Rahayu dalam Psikologi Perkembangan (1982) mengatakan masa remaja adalah fase perantara untuk anak dalam memasuki dunia nyata dan menunaikan tugas sosial, mengutip perkataan Futler, yang meninjau dari sudut pandang fenomenologis mereka mengutarakan bahwa masa tingkah laku moral yang sesungguhnya baru akan timbul pada masa remaja sebagai periode masa muda yang harus dihayati untuk dapat mencapai tingkah laku moral yang otonom, eksistensi muda sebagai keseluruhan merupakan masalah moral yang dalam hal ini harus dilihat sebagai hal yang bersangkutan dengan nilai-nilai. Erikson (1964) menambahkan bahwa identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat.
Dan yang ketiga adalah keterampilan, secara psikologis menurut piaget (1969) masa remaja adalah usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurang nya dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif. Kurang lebih berhubungan dengan masa puber, termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok. Tranformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan remaja untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.



BAB III
PENGALAMAN ANGGOTA KELOMPOK

Pada waktu kecil, kami sering sekali meniru apa yang dikerjakan oleh orang tua atau orang terdekat, misalnya kami dapat meniru orang tua kami pergi bekerja. Waktu kecil dulu, kami selalu mengikuti apa yang diajarkan oleh orang. waktu pun berlalu dan kami siap masuk sekolah. Saat TK, banyak hal yang kami lakukan bersama teman, seperti makan bersama, main bersama dan sebagainya. Masa itu adalah masa kami bermain di lingkungan formal. Sosialisasi itu berlanjut hingga kami SD dan SMP. Di keluarga pun, kami lebih banyak mengalami sosialisasi partisipatoris oleh orang tua dan saudara-saudara. Proses itu begitu membentuk pribadi kami dan jadi fondasi dasar kehidupan kami
            Kehidupan SMA agak berbeda karena kami mengalami proses pendewasaan. Saat itu, kami lebih selektif memilih teman meskipun awalnya saat antusias berkawan. Merekalah agen-agen sosialisasi yang kami maksud dengan teman sebaya. Tapi perlahan, kami mencari orang-orang yang bisa dijadikan sahabat. Sosialisasi formal yang terjadi direkatkan dengan sosialisasi informal dengan seringnya kami berkunjung ke rumah teman dan pergi bersama. Memang benar kata orang, masa yang paling indah adalah masa SMA.
            Saat kami diterima di dunia perkuliahan, proses sosialisasi harus kami jalani dalam lingkup yang lebih luas. Itu karena UI menampung banyak orang dari banyak tempat. Di sini kami dikenalkan pada lingkungan yang baru, sistem belajar baru, orang-orang baru dan guru-guru yang harus kami panggil dosen.  Di sini justru pergaulan kami lebih luas, berbeda dengan konsep total institusi yang terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas kita dapat mengetahui teori-teori tentang sosialisasi. Teori cermin diri, tahapan-tahapan dalam hidup oleh Erik, generalisasi, dan lainnya. Masih banyak teori tentang sosialisasi ini yang berkembang dan akan terus berkembang. dari pembahasan di atas pula kita dapat mengetahui tujuan sosialisasi yang intinya memfungsikan kembali fungsi sosial seseorang. Kita pun mengenal agen-agen dalam sosialisasi. Agen yang pertama dan utama adalah keluarga, kemudian sekolah, teman bermain, dan media massa.
             Kita pun jadi mengerti istilah-istilah dalam sosialisasi. Seperti sosialisasi primer yang kita dapatkan sejak dini, sosialisasi sekunder yang di dalamnya ada proses desosialisasi dan resosialisasi, teknik brainwashing, sosialisasi formal dan informal, sosialisasi partisipatoris dan represif. Manusia pun melalui proses-proses sosialisasi dalam hidupnya yang kami ambil dari teorinya Mead.
            Kita juga mengenal isolasi sosial sebagai lawan dari sosialisasi. Yaitu keadaan dimana individu dikucilkan atau mengucilkan diri dari sekitarnya. Telah dibahas secara gamblang pula aspek-aspek yang mempengaruhi sosialisasi seperti cinta kasih, bahasa dan interaksi sesama. Faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik juga telah kita bahas. Terakhir, proses resosialisasi terhadap pelaku perilaku menyimpang (delinkuen) telah diuraikan panjang lebar.
            Sosialisasi akan selalu berulang dalam kehidupan manusia normal. Mereka selalu membutuhkan orang lain untuk hidup dan mencapai kepentingan mereka. Konsep sosialisasi di atas sekiranya dapat mencerahkan kita semua tentang dasar-dasar sosialisasi. 

DAFTAR PUSTAKA

Cohen, Bruce J. dan Simamora, Sahat, Drs. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT
Bina Aksara, 1983.
Paul, Horton dan Hunt, Chester L. Sociology Edisi Keenam (International Student
Edition). Tokyo: McGraw-Hill, 1984.
Shadily, Hassan. Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta,
1993.
Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi). Jakarta: Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004.
SOSIALISASI
Sosialisasi

Poskan Komentar