Culture of Poverty di Pandangan Oscar Lewis

Dalam buku Kemiskinan di Perkotaan suntingan Dr. Parsudi Suparlan, chapter pertama membahas tentang kebudayaan kemiskinan. Oscar Lewis adalah orang yang tulisannya disimpan di awal pembahasan. Lewis menjelaskan bahwa kemiskinan yang ia pahami adalah suatu sub-kebudayaan yang diwarisi dari generasi ke generasi. Ia membawakan pandangan lain bahwa kemiskinan bukan hanya masalah kelumpuhan ekonomi, disorganisasi atau kelangkaan sumber daya. Kemiskinan dalam beberapa hal bersifat positif karena memberikan jalan keluar bagi kaum miskin untuk mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya.
Culture of poverty, lanjutnya, mewujud dalam masyarakat yang memiliki kondisi seperti:
  • Sistem ekonomi uang, buruh upahan dan sistem produksi untuk keuntungan
  • Tingkat pengangguran dan setengah pengangguran tinggi
  • Upah buruh rendah
  • Tak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisasi sosial, ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah
  • Sistem keluarga bilateral lebih menonjol
  • Kuatnya seperangkat nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta dan adanya kemungkinan mobilitas vertikal dan sikap hemat, serta ada anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidaksanggupan pribadi/memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya.


Definisi
          Culture of poverty adalah adaptasi dan reaksi kaum miskin terhadap kedudukan marginal mereka dimana kebudayaan tersebut cenderung melanggengkan dirinya dari generasi ke generasi. Kebudayaan tersebut mencerminkan upaya mengatasi keputusasaan dari angan sukses di dalam kehidupan yang sesuai dengan nilai dan tujuan masyarakat yang lebih luas.

Siapa saja yang mungkin mempunyai kebudayaan ini?
Mereka yang berasal dari strata sosial paling rendah, sedang mengalami perubahan pesat dan yang telah terasing dari masyarakat tersebut.

Apa ciri-ciri kebudayaan ini?
  1. Kurang efektifnya partisipasi dan integrasi kaum miskin ke dalam lembaga-lembaga utama masyarakat. Mereka berpenghasilan rendah namun mengakui nilai-nilai yang ada pada kelas menengah ada pada diri mereka. Mereka sangat sensitif terhadap perbedaan-perbedaan status namun tidak memiliki kesadaran kelas.
  2. Di tingkat komunitas, dapat ditemui rumah-rumah bobrok, penuh sesak, bergeerombol dan rendahnya tingkat organisasi di luar keluarga inti dan luas
  3. Di tingkat keluarga, ditandai oleh masa kanak-kanak yang singkat dan kurang pengasuhan oleh orang tua, cepat dewasa, hidup bersama/kawin bersyarat, tingginya jumlah perpisahan antara ibu dan anaknya, cenderung matrilineal dan otoritarianisme, kurangnya hak-hak pribadi, solidaritas semu.
  4. Di tingkat individu, ditandai dengan kuatnya perasaan tak berharga, tak berdaya, ketergantungan dan rendah diri (fatalisme).


          Saat ciri-ciri di atas tidak ada dalam suatu masyarakat, maka mereka tidak bisa dikatakan berkebudayaan miskin meskipun lahirnya mereka miskin secara ekonomi. Masyarakat primitif tidak bisa disebut berkebudayaan miskin karena mereka tidak terstratifikasikan dan mereka mempunyai kebudayaan yang relatif utuh. Masyarakat India tidak bisa disebut berkebudayaan miskin karena kebudayaan mereka terorganisasi dalam panchayat dan mereka memiliki sistem kekerabatan unilateral/klan. Orang Yahudi tidak bisa disebut berkebudayaan miskin karena mereka memiliki tradisi sastra yang tinggi. Masyarakat yang menganut sosialisme tidak bisa disebut berkebudayaan miskin karena dalam diri mereka tidak banya ditemukan perasaan putus asa, apati dan pasrah.
          Menghilangkan kemiskinan fisik semata-mata, tidak akan cukup menghapuskan kebudayaan kemiskinan. Apa yang bisa kita lakukan?
  • Tingkatkan taraf hidup mereka dan integrasikan ke dalam kelas menengah. Bila mungkin dengan menggunakan pengobatan psikiatrik
  • Ciptakan perubahan-perubahan struktural yang mendasar dengan mendistribusikan kembali kekayaan, mengorganisasi kaum miskin dan membuat mereka mempunyai perasaan bahwa mereka memiliki kekuatan dan kepemimpinan.


          Gagasan terakhir di atas terlihat radikal dan revolusioner. Bukan apa-apa...sub-kebudayaan kemiskinan itu menurut Lewis, merupakan bagian dari kebudayaan kapitalisme dimana sistem sosial dan ekonominya hanya menyalurkan kekayaan ke tangan yang secara relatif merupakan sekelompok kecil masyarakat sehingga jelas ada tekanan-tekanan yang dilancarkan masyarakat yang lebih luas terhadap warga masyarakat dan strukturnya sendiri.
          Hal yang penting diingat dari tulisan Lewis adalah “Lebih mudah menghapuskan kemiskinan daripada kebudayaan kemiskinan.”


Baca lebih lanjut:
Suparlan, D. P. (1984). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan dan Yayasan Obor Indonesia.



1 comments:

kalo boleh tau daftar pustakanya dari mana2 aja ini

Reply

Poskan Komentar